MENGEMBANGKAN EVALUASI ALTERNATIF

Maret 17, 2009 at 4:30 pm (Uncategorized)

pic3

ABSTRAK

Evaluasi yang sudah biasa digunakan dalam proses belajar mengajar matematika di sekolah adalah tes tertulis. Salah satu kekurangan yang dimiliki tes tertulis adalah tes hanya memberikan gambaran tentang apa yang dimiliki siswa pada saat mengerjakan tes saja dan kurang memberikan gambaran yang cukup tentang proses belajar yang telah dilakukan dan dipahami siswa. Salah satu model evaluasi yang saat ini sedang berkembang dan disinyalir memiliki banyak manfaat bagi guru maupun bagi siswa adalah asesmen portofolio. Dua hal pokok yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan suatu portofolio adalah tujuan dan komponen-komponen portofolio.

Salah satu cara mengevaluasi portofolio ialah menggunakan rubrik. Cara ini tidak lain dari skala nilai yang digunakan untuk memberi skor pada item yang mengharuskan siswa menjawab dalam bentuk tulisan dari soal atau pertanyaan yang terbuka.

Manfaat yang dapat dirasakan dari pengembangan model evaluasi ini diantaranya adalah bahwa asesmen portofolio memberikan gambaran otentik kepada guru mengenai apa yang telah dipelajari siswa, kesulitan dan kendala yang dialami siswa, kesulitan dan kendala yang dialami siswa dalam belajar, dan jenis bantuan yang diharapkan siswa.

Kata kunci: Evaluasi, Matematika, Portofolio.

I. PENDAHULUAN

Upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, khususnya peningkatan mutu pendidikan matematika masih terus diupayakan, karena sangat diyakini bahwa matematika merupakan induk dari Ilmu pengetahuan. Dalam berbagai diskusi pendidikan di Indonesia, salah satu sorotan adalah mutu pendidikan yang dinyatakan rendah bila dibandingkan dengan dengan mutu pendidikan Negara lain. Salah satu indikator adalah mutu pendidikan matematika yang disinyalir telah tergolong memprihatinkan yang ditandai dengan rendahnya nilai rata-rata matematika siswa di sekolah yang masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan nilai pelajaran lainnya. Bahkan banyak diperbincangkan tentang nilai ujian akhir nasional (UAN) bidang studi matematika yang cenderung rendah dibandingkan dengan bidang studi lainnya. Sudah sering dikemukakan oleh tokoh-tokoh pendidikan baik dalam media massa maupun dalam penelitian. Namun bukan hanya dari UAN yang menunjukkan bahwa nilai bidang studi matematika cenderung rendah dibandingkan dengan bidang studi lainnya. Hal ini disebabkan oleh lemahnya pemahaman konsep dasar matematika siswa dan siswa belum bisa memahami formulasi, generalisasi, dan konteks kehidupan nyata dengan ilmu matematika. Bahkan diperoleh keterangan 80% dari peserta didik memiliki penguasaan konsep dasar matematika yang sangat lemah.

Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, maka diperlukan berbagai terobosan, baik dalam pengembangan kurikulum, inovasi pembelajaran, dan pemenuhan sarana dan praarana pendidikan. Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa maka guru dituntut untuk membuat pembelajaran menjadi lebih inovatif yang mendorong siswa dapat belajar secara optimal baik di dalam belajar mandiri maupun didalam pempelajaran di kelas. Inovasi model-model pembelajaran sangat diperlukan dan sangat mendesak terutama dalam menghasilkan model pembelajaran baru yang dapat memberikan hasil belajar lebih baik, peningkatan efisiensi dan efektivitas pembelajaran menuju pembaharuan. Agar pembelajaran lebih optimal maka media pembelajaran harus efektif dan selektif sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan di dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

Dalam hal peningkatan mutu pendidikan, guru juga ikut memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas siswa dalam belajar matematika dan guru harus benar-benar memperhatikan, memikirkan dan sekaligus merencakan proses belajar mengajar yang menarik bagi siswa, agar siswa berminat dan semangat belajar dan mau terlibat dalam proses belajar mengajar, sehingga pengajaran tersebut menjadi efektif (Slameto, 1987). Untuk dapat mengajar dengan efektif seorang guru harus banyak menggunakan metode, sementara metode dan sumber itu terdiri atas media dan sumber pengajaran (Suryosubroto, 1997). Di samping itu, seorang pendidik dalam mengajar pada proses belajar mengajar hendaknya menguasai bahan ajaran dan memahami teori-teori belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli, sehingga belajar matematika itu bermakna bagi sisiwa sebab menguasai matematika yang akan diajarkan merupakan syarat esensial bagi guru matematika karena penguasaan materi belum cukup untuk membawa peserta didik berpartisipasi secara intelektual (Hudojo, 1988:7)

Sebagian besar orang memandang matematika sebagai bidang studi yang paling sulit. Hal ini disebabkan matematika dipandang sebagai seonggok aturan komputasi dan prosedur sebagaimana non-matematikawan memahaminya. Untuk sekedar mencapai keterampilan komputasi nampaknya “agak memuaskan”. Namun keterampilan ini nampak sulit untuk diaplikasikan ke dalam keterampilan penyelesaian masalah. Hasil belajar matematika ternyata tidak memuaskan berbagai pihak. Selain itu tidak hanya cukup sekedar mengetahui hasil belajar matematika yang dipresentasikan sebagai tingkah laku siswa yang menunjukkan keterampilan dalam mengerjakan soal-soal matematika. Meskipun demikian, semua orang harus mempelajarinya karena merupakan sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.

Dalam belajar konsep dan ide matematika, siswa dibawa dari dunia nyata yang kemudian dimatematisasikan. Dari pengalaman konkret, di observasi dan direfleksi untuk pembentukan konsep abstrak dan generalisasi. Memasuki abad ke XXI dunia menghadapi permasalahan yang lebih kompleks daripada sebelumnya sehingga pendidikan matematika tidak mungkin menghindari untuk melatih siswa agar mampu dan terampil menyelesaikan masalah sejak pendidikan dasar. Siswa menyadari bahwa matematika sangat bermanfaat untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan dan pengetahuan lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, matematika sangat diperlukan di berbagai bidang. Berkembangnya teknologi informasi menyebabkan semakin dapat dinilainya aplikasi yang realistic dengan alat matematika, sehingga dapat mengembangkan lebih banyak alat-alat, yang pada gilirannya membuka aplikasi baru. Perubahan sikap ini mempengaruhi kurikulum matematika yang semakin menjadi aplikatif. Matematika merupakan bahasa simbolis untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan, yang memudahkan manusia berpikir dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.

Evaluasi yang sudah biasa digunakan dalam proses belajar mengajar matematika di sekolah adalah tes tertulis. Salah satu kekurangan yang dimiliki tes tertulis adalah tes hanya memberikan gambaran tentang apa yang dimiliki siswa pada saat mengerjakan tes saja dan kurang memberikan gambaran yang cukup tentang proses belajar yang telah dilakukan dan dipahami siswa. Salah satu model evaluasi yang saat ini sedang berkembang dan disinyalir memiliki banyak manfaat bagi guru maupun bagi siswa adalah asesmen portofolio.

Asesmen portofolio adalah model asesmen yang menggunakan kumpulan hasil karya siswa yang menunjukkan pencapaian atau peningkatan yang dipeorleh siswa dari proses pembelajaran (Stiggin, 2004). Menurut Gitomer dan Duschl (2004), portofolio dapat memberikan masukan tentang minat belajar siswa, apa yang telah dan belum diketahui siswa, kemajuan belajar siswa, serta kesulitan yang dialami siswa. Informasi tersebut sangat dibutuhkan oleh seorang guru untuk mengemas proses pembelajaran sesusi dengan kemampuan dan kebutuhan siswa. Dengan menggunakan asesmen portofolio dalam pembelaran matematika, diharapkan guru dan siswa akan lebih termotivasi dan lebih bertanggunjawab dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran sehingga akan meningkatkan kualiats proses dan produk pembelajaran.

II. KONSEP MATEMATIKA

Dari berbagai bidang studi yang diajarkan di sekolah, matematika merupakan bidang studi yang dianggap paling sulit oleh para siswa. Menurut Johnson dan Myklebust (1967: 244) bahwa matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir. Lerner (1988: 430) mengemukakan bahwa matematikan disamping sebagai bahasa simbolis juga merupkan bahasa universal yang memungkinkan manusia memikrikan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen dan kuantitas.

Kline (1981: 172) juga mengemukakan bahwa matematika merupakan bahasa simbolis dari cirri utamanya adalah penggunaan cara bernalar deduktif, tetapi juga tidak melupakan cara bernalar induktif. Menurut Palling (1982: 1) bahwa matematika adalah suatu cara untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia, suatu cara menggunakan informasi, menggunakan pengetahuan tentang bentuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan tentang menghitung, dan yang paling penting adalah memikirkan dalam diri manusia itu sendiri dalam melihat dan menggunakan hubungan-hubungan.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa definisi tradisional yang menyatakan bahwa matematika sebagai ilmu tentang kuantitas (the science of quantity) atau ilmu tentang ukuran diskrit dan berlanjut (the science of discrate and continous) (Runes, 1967: 189) telah ditinggalkan. Dari berbagai pendapat yang telah dikemukakan bahwa secara komtemporer pandangan tentang matematika lebih ditekankan pada metodenya daripada pokok persoalan matematika itu sendiri.

Matematika merupakan bidang studi yang dipelajari oleh semua siswa dari sekolah dasar hingga sekolah lanjutan tingkat atas, dan bahkan juga di perguruan tinggi. Cornelius (dalam Mulyono Abdurahman, 2003: 253) mengemukakan lima alasan perlunya belajar matematika karena matematika merupakan:

1. Sarana berpikir yang jelas dan logis,

2. Sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari,

3. Sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman,

4. Sarana untuk mengembangkan kreativitas,

5. Sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya.

Ada empat pendekatan yang saling berpengaruh dalam pengajaran matematika, yaitu (Abdurahman, 2003: 255 – 257):

1. Urutan belajar yang bersifat perkembangan (development learning sequences)

Pendekatan ini menekankan pada pengukuran kesiapan belajar siswa, penyediaan pengalaman dasar, dan pengajaran keterampilan matematika prasyarat.

2. Belajar tuntas (matery learning)

Pendekatan ini menekankan pada pengajaran matematika mellaui pembelajaran langsung (direct instruction) dan terstruktur.

3. Strategi belajar (learning strategies)

Pendekatan ini memusatkan pada pengajaran bagaimana belajar matematika (how to learn mathematics).

4. Pemecahan masalah (problem solving)

Pendekatan ini menekankan pada pengajaran untuk berpikir tentang cara memecahkan masalah dan pemrosesan informasi matematika.

Pendapat lain dikemukakan oleh Cockroft (1983: 1 – 5) bahwa matematika perlu diajarkan kepada siswa karena:

1. Selalu digunakan dalam segi kehidupan,

2. Semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai,

3. Merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat, dan jelas,

4. Dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara,

5. Meningkatkan kemampuan berpikir logis, ketelitian, dan kesadaran keruangan, dan

6. Memberikan kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang.

Liebeck (1984: 12) mengemukakan bahwa ada dua macam hasil belajar matematika yang harus dikuasai oleh siswa, perhitungan matematis (mathematics calculation) dan penalaran matematis (mathematics reasoning). Berdasarkan hasil belajar semacam itu maka Lerner (1988: 430) mengemukakan bahwa kurikulum bidang studi matematika hendaknya mencakup tiga elemen, yaitu (1) konsep, (2) keterampilan, dan (3) pemecahan masalah. Konsep menunjuk pada pemahaman dasar. Siswa mengembangkan suatu konsep ketika mereka mampu mengklasifikasikan atau mengelompokkan benda-benda atau ketika mereka dapat mengasosiasikan suatu nama dalam kelompok benda tertentu. Jika konsep menunjuk pada pemahaman dasar, maka keterampilan menunjuk pada sesuatu yang dilakukan oleh seseorang. Suatu keterampilan dapat dilihat dari kinerja anak secara baik atau kurang baik, secara cepat atau lambat, dan secara mudah atau sangat sukar. Keterampilan cenderung berkembang dan dapat ditingkatkan melalui latihan. Pemecahan masalah adalah aplikasi dari konsep dan keterampilan. Dalam pemecahan masalah biasanya melibatkan beberapa kombinasi konsep dan keterampilan dalam suatu situasi baru atau situasi yang berbeda.

Dalam dunia pendidikan di Indonesia dikenal adanya matematika modern. Pelajaran matematika modern lebih menekankan pada mengapa dan bagaimana matematika melalui penemuan dan eksplorasi. Pengajaran seperti ini agaknya telah mengabaikan beberapa aspek dari psikologi belajar. Karena adanya berbagai kesulitan tentang matematika modern maka muncul gagasan utuk kembali ke berhitung. Nama matematika bukan persoalan karena berhitung adalah bagian dari matematika. Di Amerika telah muncul gerakan keterampilan dasar (basic skill movement) yang mencerminkan kekecewaan terhadap matematika modern dan mengusulkan agar lebih menekankan pada keterampilan menghitung. Dewan nasional untuk pengajaran matematika di Amerika Serikat seperti dikutip oleh Lerner (1988: 436) mengusulkan agar kurikulum matematika mencakup 10 keterampilan dasar sebagai berikut:

1. Pemecahan masalah;

2. Penerapan matematika dalam situasi kehidupan sehari-hari;

3. Ketajaman perhatian terhadap kelayakan hasil;

4. Perkiraan;

5. Keterampilan perhitungan yang sesuai;

6. Geometri;

7. Pengukuran;

8. Membaca, menginterpretasikan, membuat table, chart, dan grafik;

9. Menggunakan matematika untuk meramalkan;

10. Melek komputer (computer literacy)

Untuk mengatasi dan meningkatkan mutu pendidikan matematika yang selama ini sangat rendah, dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain meningkatkan metode dan kualitas guru agar memiliki dasar yang mantap sehingga dapat mentransfer ilmu dalam mempersiapkan kualitas sumber daya manusia. Secara umum, pendidikan sebenarnya merupakan suatu faktor rangkaian kegiatan komunikasi antar manusia. Kegiatan tersebut dalam dunia pendidikan disebut dengan kegiatan proses belajar-mengajar yang dipengaruhi oleh faktor yang menentukan keberhasilan siswa. Sehubungan dengan faktor yang menentukan keberhasilan sisiwa dalam belajar ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan sisiwa untuk belajar, yaitu: (1) faktor internal, yaitu yang muncul dari dalam diri sendiri, dan (2) faktor eksternal, yaitu faktor yang muncul dari luar diri sendiri (Slameto, 1987).

Selain itu matematika merupakan suatu disiplin ilmu yang mempunyai kekhususan dibanding dengan disiplin ilmu lainnya yang harus memperhatikan hakekat matematika dan kemampuan siswa dalam belajar. Tanpa memperhatikan faktor tersebut tujuan kegiatan belajar tidak akan berhasil. Seorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan dalam diri orang itu menjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku itu dapat diamati dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama disertai usaha yang dilakukan sehingga orang tersebut dari yang tidak mampu mengerjakan sesuatu menjadi mampu mengerjakannya (Hudojo, 1988). Dalam proses belajar matematika, prinsip belajar harus terlebih dahulu dipilih, sehingga sewaktu mempelajari metematika dapat berlangsung dengan lancar, misalnya mempelajari konsep B yang mendasarkan pada konsep A, seseorang perlu memahami lebih dahulu konsep A. Tanpa memahami konsep A, tidak mungkin orang itu memahami konsep B. Ini berarti mempelajari matematika haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan pada pengalaman belajar yang lalu (Hudojo, 1988).

Dalam menjelaskan konsep baru atau membuat kaitan antara materi yang telah dikuasai siswa dengan bahan yang disajikan dalam pelajaran matematika, akan membuat siswa siap mental untuk memasuki persoalan-persoalan yang akan dibicarakan dan juga dapat meningkatkan minat dan prestasi siswa terhadap materi pelajaran matematika. Sehubungan dengan hal diatas, kegiatan belajar-mengajar matematika yang terputus-putus dapat mengganggu proses belajar-mengajar ini berarti proses belajar matematika akan terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan secara kontiniu (Hudojo, 1988). Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa seseorang akan lebih mudah untuk mempelajari sesuatu apabila belajar didasari pada apa yang telah diketahui sebelumnya karena dalam mempelajari materi matematika yang baru, pengalaman sebelumnya akan mempengaruhi kelancaran proses belajar matematika.

III. EVALUASI DAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN

Evaluasi pembelajaran merupakan suatu proses untuk menentukan jasa, nilai atau manfaat kegiatan pembelajaran melalui kegiatan penilaian dan/atau pengukuran. Evaluasi pembelajaran mencakup pembuatan pertimbangan tentang jasa, nilai atau manfaat program, hasil dan proses pembelajaran.

Evaluasi ini berfungsi dan bertujuan untuk pengembangan pembelajaran yang bertitik tolak dari pandangan Said Hamid Hasan (1998: 39) bahwa fungsi formatif evaluasi diarahkan untuk memperbaiki bagian tertentu atau sebagian besar bagian pembelajaran yang sedang dikembangkan. Memperbaiki bagian tertentu atau sebagian besar pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan pengembangan pembelajaran. Secara garis besar, desain evaluasi pembelajaran berisi hal-hal yang sama dengan desain penelitian, yakni latar belakang, problematika, tujuan evaluasi, populasi dan sampel, instrumen dan sumber data serta teknis analisis data (Arikunto, 1988: 44).

a. Mengembangkan Portofolio

Dalam praktek pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan evaluasi kinerja dan produk dari peserta didik, portofolio merupakan suatu bagian yang sangat penting. Hal ini dikarenakan portofolio merupakan suatu sarana yang mampu mengungkap aspek-aspke proses dan pencapaian dari siswa yang tidak dapat dideteksi melalui tes, interview, atau melalui monitoring. Portofolio diartikan sebagai suatu koleksi dari sampel-sampel pekerjaan siswa, termasuk didalamnya karya tulis, tes, laporan kegiatan, pekerjaan rumah, proyek, atau hal-hal lain yang dapat menggambarkan atau mendemonstrasikan kemampuan siswa dalam memahami matematika secara luas. Portofolio juga dapat digunakan untuk mengindikasikan pertumbuhan pemahaman siswa akan matematika setelah kurun waktu tertentu, serta menunjukkan sifat, keyakinan dan kemamuan siswa dalam mengerjakan matematika (Heddens & Speer, 1997). Protofolio biasanya hanya memuat hal-hal yang memberikan penilaian positif terhadap yang bersangkutan.

Dua hal pokok yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan suatu portofolio adalah tujuan dan komponen-komponen portofolio. Pemilihan dokumen untuk membangun suatu portofolio harus mengacu pada tujuan penggunaa portofolio tersebut. Apabila searong guru ingin menggali informasi melalui portofolio maka terlebih dahulu ia harus merumuskan tujuannya. Selanjutnya harus ditentukan pula aspek apa saja yang ingin diketahui yang akan membentuk komponen dari portofolio. Tiap guru biasanya menginginkan format portofolio yang berbeda. Robinson (1998), berpendapat bahwa seorang guru matematika yang ingin mengetahui kemajuan siswa-siswanya dalam operasi bilanga pecahan akan meminta murid-muridnya untuk memasukkan hal-hal seperti proyek kelompok, tugas pekerjaan rumah setiap hari, hasil ulangan, tugas tulisan, otobiografi dalam matematika, catatan kelas, dan hal-hal lain yang dianggap penting dlam menunjukkan kemajuan mereka dalam matematika.

Mengingat dokumen-dokumen yang membangun portofolio ini sangat diharapkan bervariasi, maka diperlukan tenggang waktu yang cukup bagi siswa untuk mengerjakan dan mengoleksinya. Dengan demikian proses belajar berikut hasil belajar yang telah dilakukan siswa secara menyeluruh diharapkan akan tergambarkan dengan lengkap.

b. Mengevaluasi Portofolio

Mengevaluasi portofolio tidak semudah mengevaluasi dengan tes, sebab tidak pernah ada portofolio yang tepat sama. Hal ini disebabkan karena setiap individu dapat menyiapkannya item-item yang berbeda sesuai dengan kelebihan yang dimilikinya. Oleh karena itu mengevaluasi portofolio bukan merupakan tugas yang gampang.

Salah satu cara mengevaluasi portofolio ialah menggunakan rubrik. Cara ini tidak lai dari skala nilai yang digunakan untuk memberi skor pada item yang mengharuskan siswa menjawab dalam bentuk tulisan dari soal atau pertanyaan yang terbuka. Pada soal ini siswa dapat menjawab secara bebas dan terdapat banyak cara untuk memperoleh jawaban. Jika rubrik digunakan untuk menskor portofolio, guru dapat memberitahukan komponen apa yang perlu dimuat dalam suatu portofolio, guru dapat memberitahukan komponen apa yang perlu dimuat dalam sutau portofolio dan menggunakan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya untuk memperoleh nalai secara keseluruhan.

Guru dapat menggunakan portofolio untuk menemukan apakah ada indikasi tentang strategi pemcahan maslah, komunikais yang jelas, berpikir dan refleksi, penggunaan notasi dan istilah yang tepat, kaitan dengan kehidupan sehari-hari, ataupun disposisi yang posisitf terhadap matematika. Berikut disajikan kriteria penilaian untuk portofolio:

Skor Kriteria

5 Lengkap dan kompeten

3 Memenuhi kompetensi dasar

2 Jawaban parsial

1 Jawaban coba-coba

0 Tidak ada respon

Selain menggunakan rubrik cara portofolio juga dapat dikembangkan sendiri oleh guru, misal dengan menetukan beberapa persyaratan mendasar yang harus dipenuhi. Persyaratan dasar itu misalya banyaknya entri minimal yang harus ada, nilai guna dan nilai eksplanasi dokumen, dan waktu penyerahan. Siswa yang seperti ini tentu saja memiliki nilai lebih dari siswa yang hanya mengumpulkan entri minimal. Sedangkan tingkat kebermaknaan dokumen dpat ditunjukkan dengan prestasi yang ditunjukkan seperti niali tes/tugas yang tinggi, piagam, partispasi dalam menyelesaikan proyek, atau apa saja yang menunjukkan peningkatan.

IV. KESIMPULAN

Manfaat yang dapat dirasakan dari pengembangan model evaluasi ini diantaranya adalah bahwa asesmen portofolio memberikan gambaran otentik kepada guru mengenai apa yang telah dipelajari siswa, kesulitan dan kendala yang dialami siswa, kesulitan dan kendala yang dialami siswa dalam belajar, dan jenis bantuan yang diharapkan siswa. Semua informasi itu tidak mudah diperoleh melaklui metode tes yang biasa dilakukan. Selain itu protofolio dapat dijadikan alat untuk memvalidasi informasi tentang pemahaman siswa mengenai suatu konsep. Kelebihan lain yang diperoleh melalui portofolio adalah siswa belajar mengevaluasi diri sendiri (self assesment). Hal ini sangat membantu dalam membangun rasa tanggungjawab dalam belajar, memonitor diri sendiri dalam kegiatan belajar, menanamkan kesadaran untuk meningkatkan kemampuan diri, dan membangun argumen-argumen yang logis. Dampak lain yang muncul adalah siswa merasa terpacu untuk belajar terus, senang mengikuti pelajaran, dan termotivasi untuk mencari sesuatu yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Mulyono, 2003, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta: Rineka Cipta dan Depdikbud.

Cronbach, J, & Snow, 1977, Aptitude and Instruksional Methods: A Handbook For Research on Instruction, New York: Irvington.

Cockroft, W. H., 1982, Mathematics Counts, Report of the Commitee of Inguiry Into the Teaching of Mathematics in School, London: Her Majesty’s Stationery Office.

Gitomer, D. H. & Duschl, R. A., 2004, Moving towards a portfolio culture in science education, Pittburgh: University of Pittburgh

Hudojo, H., 1988, Mengajar Belajar Matematika,. Jakarta: Depdikbud.

Heddens & Speer, 1997, Today Mathematics, San Fransisco: Jossey-Bass Publisher.

Johnson, D. J, & Myklebust, H. R., 1967, Learning Disbilities, New York: Grume & Stratton.

Kline, Morris, 1981, Matematika: Ilmu dalam Perspektif, Jakarta: Gramedia.

Lerner, Janet W., 1988, Learning Disabilities: Theoris, Diagnosis, and Teaching Strategies, New Jersey: Houghton Mifflin.

Liebeck, Pamel, 1984, How Children Learn Mathematics, New York: Penguin Book.

Palling, D., 1982, Teaching Mathematics in Primary School, Oxford: University Press.

Robinson, 1998, Student Portfolio in Mathematics. The Mathematics Teacher.

Suryosubroto, B., 1997, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta.

Slameto, 1987, Teori-Teori Belajar Mengajar, Jakarta, Rineka Cipta

Stiggins, R. J., 2004, Student Center Classroom Assesment, New York: Macmillan College Publishing Company.

Said Hamid Hasan, 1988, Evaluasi Kurikulum, Jakarta: Depdikbud

Suharsimi Arikunto, 1988, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

MANFAAT INTERNET DALAM PROSES BELAJAR-MENGAJAR

Maret 15, 2009 at 4:25 pm (Uncategorized)

pic72

A. ABSTRAK

Internet dirasakan sangat bermanfaat di dalam bidang pendidikan termasuk dalam proses belajar-mengajar. Manfaatnya adalah : Menjadi jawaban bagi kelemahan-kelemahan proses belajar-mengajar konvensional, meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar yang ada, meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja, menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas, dan mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran.

Internet is useful in education today, includes in teaching process. The benefits are: Become an answer to the weakness of conventional teaching process, increasing teaching process quality, increasing teaching process intensity, realizing teaching interaction anywhere and anytime, reaching students wildly, and make easy the process of education substance perfection and storage.

B. KATA KUNCI

Belajar-mengajar, internet, manfaat.

C. PENDAHULUAN

Internet adalah singkatan dari Interconnection Network, yang artinya adalah hubungan antar jaringan komputer. Sedangkan network berarti suatu sistem komunikasi data antar komputer. Lalu ada juga yang mengartikan bahwa internet adalah jaringan komputer luas dan besar yang mendunia, yang menghubungkan pemakai komputer dari satu negara ke negara lainnya di seluruh dunia, dimana didalamnya terdapat berbagai sumber daya informasi dari mulai yang statis hingga yang dinamis.

Segolongan manusia ada yang berusaha menolak kehadiran internet dalam kehidupan mereka karena dianggap lebih banyak memberi pengaruh negatif dari pada pengaruh positif. Tetapi, dengan perkembangan dunia modern, keberadaan internet tidak lagi dapat ditolak oleh manusia. Suka atau tidak, mau atau tidak, internet telah menjadi hal yang penting bagi dunia dan kehidupan manusia.

Internet sebagai media penyebaran informasi global dirasakan manfaatnya sejak pertengahan dasawarsa 90-an, baik untuk kepentingan bisnis maupun personal, di Indonesia. Salah satu komunitas pemanfaat jasa internet terbesar di Indonesia adalah kelompok usia sekolah dan mahasiswa. Banyak sekolah di kota-kota yang memperkenalkan internet sebagai salah satu program intra dan ekstrakurikulernya. Lewat laboratorium atau perpustakaan, komputer dan saluran akses internet, sekolah memberi bekal cukup memadai tentang internet dan pemanfaatannya. Selanjutnya para siswa dapat memanfaatkan pengetahuan tentang internet untuk pengembangan diri dan alat bantu mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Selain dampak negatif yang sangat mengganggu dengan adanya kemudahan akses terhadap hal-hal yang berbau pornografi, adanya game online, maupun fasilitas chatting yang seringkali dipakai untuk mengobrol tentang hal-hal tidak berguna, internet juga dirasakan sangat berguna di berbagai bidang kehidupan manusia. Misalnya di bidang sosial dapat membantu orang bersosialisasi dengan orang lain di seluruh penjuru dunia dengan cepat (melalui e-mail, chatting, dan lain sebagainya). Dalam bidang ekonomi dan bisnis membuat produsen dan konsumen dapat bertransaksi secara online tanpa terikat ruang dan waktu sehingga perusahaan di Indonesia memiliki kesempatan yang sama dengan kalangan bisnis asing untuk menjalin kerjasama atau ingin mengakses pasar mancanegara.

Internet juga dirasakan sangat bermanfaat di dalam bidang pendidikan. Sebelum adanya internet, masyarakat Indonesia terutama kalangan akademisi sungguh tidak mudah untuk mencari sumber informasi. Kendati berbagai buku maupun jurnal banyak terdapat di perpustakaan konvensional, namun belum tentu sesuai kebutuhan. Kehadiran internet telah mempermudah seseorang untuk mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan, di manapun itu (nasional dan mancanegara). Proses distance learning atau kelas jauh yang beberapa waktu lalu mungkin dianggap mustahil, kini sangat memungkinkan dilakukan.

D. MANFAAT INTERNET BAGI PROSES BELAJAR-MENGAJAR

Beberapa manfaat internet dalam proses belajar-mengajar adalah sebagai berikut:

1. Menjadi jawaban bagi kelemahan-kelemahan proses belajar-mengajar konvensional

Internet memang besar manfaatnya bagi kehidupan manusia termasuk dalam bidang pendidikan. Selain memberi kemudahan dalam proses pencarian informasi, internet juga bermanfaat dalam proses belajar dan mengajar antara dosen/guru/intruktur dengan siswanya. Dalam hal ini, beberapa kelemahan di dalam proses belajar dan mengajar konvensional dapat terselesaikan.

Pendekatan pembelajaran dikatakan sebagai pendekatan pembelajaran yang konvensional apabila mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a. Otoritas seorang guru lebih diutamakan dan berperan sebagai contoh bagi murid-muridnya.

b. Perhatian kepada masing-masing individu atau minat siswa sangat kecil.

c. Pembelajaran di sekolah lebih banyak dilihat sebagai persiapan akan masa depan, bukan sebagai peningkatan kompetensi siswa di saat ini.

d. Penekanan yang mendasar adalah pada bagaimana pengetahuan dapat diserap oleh siswa dan penguasaan pengetahuan tersebutlah yang menjadi tolok ukur keberhasilan tujuan, sementara pengembangan potensi siswa diabaikan.

Proses belajar dan mengajar konvensional ditandai dengan guru mengajar lebih banyak tentang konsep-konsep bukan kompetensi, tujuannya adalah siswa mengetahui sesuatu bukan mampu untuk melakukan sesuatu, dan pada saat proses pembelajaran siswa lebih banyak mendengarkan. Di sini terlihat bahwa pendekatan konvensional yang dimaksud adalah proses pembelajaran yang lebih banyak didominasi gurunya sebagai “pen-transfer” ilmu, sementara siswa lebih pasif sebagai “penerima” ilmu.

Institute of Computer Technology menyebutnya dengan istilah “Pengajaran tradisional”. Dijelaskannya bahwa pengajaran tradisional yang berpusat pada guru adalah perilaku pengajaran yang paling umum yang diterapkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia. Pengajaran model ini dipandang efektif, terutama untuk:

a. Berbagi informasi yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.

b. Menyampaikan informasi dengan cepat.

c. Membangkitkan minat akan informasi.

d. Mengajari siswa yang cara belajar terbaiknya dengan mendengarkan.

Namun demikian pendekatan pembelajaran tersebut mempunyai beberapa kelemahan sebagai berikut:

a. Tidak semua siswa memiliki cara belajar terbaik dengan mendengarkan.

b. Sering terjadi kesulitan untuk menjaga agar siswa tetap tertarik dengan apa yang dipelajari.

c. Pendekatan tersebut cenderung tidak memerlukan pemikiran yang kritis.

d. Pendekatan tersebut mengasumsikan bahwa cara belajar siswa itu sama dan tidak bersifat pribadi.

Keberadaan internet dimana setiap orang bebas memberi dan menerima informasi dari siapa saja, kapan saja dan dimana saja telah menjadikan internet sebagai pendorong revolusioner dalam arus informasi global. Kelebihan internet ini buat sebagian kalangan telah menjadi momok yang menakutkan. Tetapi tidak demikian di dunia pendidikan, khususnya dalam proses belajar dan mengajar. Tidak adanya batasan ruang dan waktu dalam internet telah menjadi kelebihan internet tersebut untuk digunakan sebaik-baiknya di dalam proses belajar dan mengajar. Apabila selama ini pendekatan konvensional dalam proses belajar dan mengajar menempatkan peserta didik sebagai pihak yang pasif, maka dengan proses belajar mengajar yang memanfaatkan internet akan membuat peserta didik dengan sendirinya menjadi pihak yang aktif. Yang kemudian terjadi adalah tercapainya cara belajar yang berbeda-beda bagi masing-masing siswa dan hal itu artinya proses belajr-mengajar bersifat pribadi bagi masing-masing siswa. Dengan demikian, keberadaan internet dalam proses belajar-mengajar dapat menyelesaikan kelemahan-kelemahan dalam proses belajar-mengajar konvensional.

2. Meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar

Proses belajar-mengajar dengan menggunakan internet dapat diterapkan di sekolah-sekolah yang mempunyai fasilitas komputer yang memadai. Walaupun sebenarnya dapat juga diusahakan oleh sekolah yang tidak mempunyai fasilitas komputer misalnya dengan mendatangi warnet sebagai partner dalam proses belajar-mengajar tersebut.

Di sini dibutuhkan kepiawaian seorang guru dalam mendampingi, membimbing dan mengolah metode pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai dengan kualitas yang lebih bagus. Beberapa metode pendukung yang dapat dilakukan oleh guru diantaranya adalah: diskusi, demonstrasi, problem solving, inkuiri, dan descovery. Guru memberikan topik tertentu pada siswa, kemudian siswa mencari hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut dengan cara mencari (down load) dari internet. Guru juga dapat memberikan tugas-tugas ringan yang mengharuskan siswa mengakses dari internet. Siswa juga dapat belajar dari internet tentang hal-hal yang up to date yang berkaitan dengan pengetahuan. Guru dapat memberi tugas pada siswa untuk mencari suatu peristiwa mutakhir dari internet kemudian mendiskusikannya di kelas, lalu siswa menyusun laporan dari hasil diskusi tersebut.

Metode-metode tersebut dapat dilakukan guru dengan model-model pembelajaran yang bervariasi supaya siswa semakin senang dan tertarik untuk mempelajarinya sehingga proses pembelajaran tersebut menjadi pembelajaran yang bermakna. Dengan pembelajaran berbasis internet diharapkan siswa akan terbiasa berpikir kritis dan mendorong siswa untuk menjadi pembelajar otodidak. Siswa juga akan terbiasa mencari berbagai informasi dari berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran ini juga mendidik siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam kelompok kecil maupun tim. Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu dengan pembelajaran berbasis internet, maka pengetahuan dan wawasan siswa berkembang dan mampu meningkatkan hasil belajar siswa, dengan demikian kualitas proses belaja-mengajar dan kualitas pendidikan juga akan meningkat.

3. Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran

Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran dengan internet dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar (enhance interactivity). Hal ini berbeda dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi. Hal ini dikarenakan pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas. Biasanya kesempatan yang terbatas ini juga cenderung didominasi oleh beberapa peserta didik yang cepat tanggap dan berani.

Keadaan yang demikian ini tidak akan terjadi pada pembelajaran melalui internet. Peserta didik yang malu maupun yang ragu-ragu atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan pernyataan/pendapat tanpa merasa diawasi atau mendapat tekanan dari teman sekelas.

4. Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).

Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja. Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada instruktur begitu selesai dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan guru/dosen/instruktur. Peserta didik tidak terikat ketat dengan waktu dan tempat penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada pendidikan konvensional.

5. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience).

Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan proses belajar-mengajar melalui internet semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan.

6. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).

Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar. Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan mudah. Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat pula dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari peserta didik maupun atas hasil penilaian pihak yang berwenang.

Selain manfaat tersebut, ada manfaat yang dirasakan langsung oleh siswa maupun dosen/guru/instruktur. Manfaat itu adalah sebagai berikut:

1. Manfaat bagi siswa

Dengan adanya internet dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi. Artinya, siswa dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Selain itu siswa juga dapat berkomunikasi dengan guru/dosen setiap saat, misalnya melalui chatting dan e-mail. Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses melalui internet, maka siswa dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja, juga tugas-tugas pekerjaan rumah dapat diserahkan kepada guru/dosen begitu selesai dikerjakan.

2. Manfaat bagi pengajar (guru/dosen/instruktur)

Dengan adanya internet manfaat yang diperoleh guru/dosen/instruktur antara lain adalah bahwa guru/dosen/instruktur akan lebih mudah melakukan pembaharuan materi maupun model pengajaran sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi, juga dapat dengan efisien mengontrol kegiatan belajar siswanya.

Keuntungan menggunakan internet bagi guru/dosen/instruktur dalam proses belajar-mengajar di antaranya adalah sebagai berikut:

· Menghemat waktu proses belajar-mengajar

· Mengurangi biaya perjalanan

· Menghemat biaya pendidikan secara keseluruhan (infrastruktur, peralatan, buku-buku)

· Lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung-jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi

· Mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak

· Mengontrol kegiatan belajar peserta didik. Bahkan guru/dosen/instruktur juga dapat mengetahui kapan peserta didiknya belajar, topik apa yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajari, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang

· Mengecek apakah peserta didik telah mengerjakan soal-soal latihan setelah mempelajari topik tertentu

· Memeriksa jawaban peserta didik dan memberitahukan hasilnya kepada peserta didik.

E. PENUTUP

Dengan mengetahui begitu besar manfaat internet dalam dunia pendidikan khususnya dalam proses belajar-mengajar, maka sekolah harus semakin terbuka terhadap keberadaan fasilitas internet ini. Tugas sekolah bukan lagi sekedar memperkenalkan internet kepada siswa dan guru, melainkan harus memanfaatkan internet tersebut seoptimal mungkin sehingga manfaatnya bisa semakin dirasakan bagi guru, siswa dan proses belajar-mengajar itu sendiri.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.